Renal failure dalam bahasa indonesia sering disebut sebagai gagal ginjal. Penyakit ini terjadi karena terjadi penurunan kemampuan ginjal menyaring darah. RF sebagian besar terjadi pada individu yang mengkonsumsi jamu-jamuan. KOnsumsi jamu yang berlebih akan berakibat pada meningkatny aktivitas ginjal. jika ginjal selalu dipaksa kerja keras, maka semakin lama ginjal akan rusak.
ARF terjadi akibat penurunan secara tiba-tiba dari laju filtrasi glomerulus (GFR) dan ketidakmampuan ginjal untuk mengekresikan hasil buangan metabolisme tiap harinya. Terapi nutrisi medical untuk ARF sangat penting karena pasien tidak hanya mengalami uremia, metabolik asidosis, dan ketidakseimbangan elektrolit tetapi juga stres fisiologik (infeksi atau kerusakan jaringan). Pada awalnya pasien tidak dapat makan sehingga harus diberikan Total Parentral Nutrisi (TPN). Hanya sedikit pasien dapat mentoleransi makanan secara oral sehingga sediaan IV dianjurkan untuk mereduksi katabolisme protein. Pemberian karbohidrat tunggal (misal 100g atau lebih etiap 4 jam) hanya mereduksi pemecahan protein 50%. Peneliti menggusulkan intake protein serendahnya 0.3 g/kg bb pada fasa awal ARF atau 0.5-1.5 g/kg bb. Jika sudah stabil dan kondisi renal kembali baik maka intake protein 0.8-1.0 g/kg bb. Intake energi 50 kcal/kg bb/hari. Intake potasium ditekan hingga 30-50 mEq/hari.
Terapi Nutrisi Medikal
1. Energi cukup untuk mencegah katabolisme yaitu 25-35 kkal/kg BB.
2. Protein disesuaikan dengan katabolisme protein yaitu 0,6-1,5 g/kg BB. Pada katabolik ringan kebutuhan protein 0,6-1 g/kg BB, katabolik sedang 0,8-1,2 g/kg BB dan katabolik berat 1-1,5 g/kg BB.
3. Lemak sedang yaitu 20-30 % dari kebutuhan energi total antara lain 0,5-1,5 g/ kg BB. Untuk katabolisme berat dianjurkan 0,8-1,5 g/kg BB.
4. Karbohidrat sebanyak sisa kebutuhan energi setelah dikurangi jumlah energi yang diperoleh dari protein dan lemak. Apabila terjadi hipertrigliseridemia, batasi penggunaan karbohidrat sederhana/ gula murni.
5. Na dan K dibatasi bila ada anuria.
6. Cairan sebagai pengganti cairan yang keluar melalui muntah, diare dan urin + 500 ml.
7. Bila kemampuan untuk makan rendah, makanan diberikan dalam bentuk formula enteral/ parenteral. Bila diperlukan tambahkan suplemen asam folat, vit B6, vit C, vit A dan vit K.
Jenis diet disesuaikan dengan keadaan pasien dan berat ringannya katabolisme protein. Pada katabolik ringan (keracunan obat) dapat diberikan makanan per oral dalam bentuk lunak. Pada katabolik sdang (infeksi, peritonitis) serta katabolik berat (luka bakar, sepsis) diberikan makanan formula enteral dan/ parenteral.


0 comments:
Post a Comment